Penulis: admin

Ini Tiga Lokasi yang Dijadikan Pasar Lentora

PALU – Tiga lokasi dijadikan sebagai titik Pasar Lentora, yang akan menjual berbagai keperluan masyarakat jelang Hari Raya Idul Fitri. Pasar Lentora ini nantinya, serentak dibukan pada 7 Juni mendatang.

Kepala Bidang (Kabid) Pasar Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindagin) Kota Palu, Imran Karim mengungkapkan, pasar dadakan ini dibuat di Lapangan Jalan S Parman, khusus wilayah Kecamatan Palu Timur dan Mantikulore, di Palu Plaza untuk Palu Barat dan wilayah Tawaeli.

“Ini pasar rakyat yang menjual barang dan kebutuhan pokok yang harganya terjangkau oleh rakyat,” katanya.

Imran menambahkan, pihak Disperdagin tidak termasuk dalam kepanitiaan Pasar Lentora, melainkan hanya memfasilitasi terkait lokasi serta fasilitas lain seperti tenda.

“Lebih jelasnya, kalau kami yang ada di Disperdagin bukan panitia melainkan hanya sebagai pelaksana teknis. Panitianya sendiri merupakan pelaku usaha, seperti Ketua Panitia yang merupakan pimpinan mal yang ada Kota Palu, hari ini baru ditandatangani surat keputusannya,” tambahnya.

Terkait lokasi Pasar Lentora di Jalan S Parman, yang sudah terlihat ada aktifitas, disampaikan Imran, bahwa itu hanya Pasar Murah yang sudah berjalan lebih awal dan yang mengisinya pun salah satu supermarket yang ada di Kota Palu.

“Kalau orang bilang Pasar Lentora Sepi, sebenarnya bukan Pasar Lentora yang sepi melainkan Pasar Murah. Karena Pasar Lentora belum diresmikan dan pasar Murah yang ada sekarang itu lain dengan Pasar Lentora, Pasar Murah yang ada sekarang itu sudah diresmikan dari pertama Ramadan,” jelasnya.

Untuk diketahui, pedagang yang telah mendaftar untuk Pasar Lentora, sudah lebih dari 200 pedagang. Nantinya panitia yang mengatur para pedagang tersebut. (cr1)

Categories: Radar Palu

Pelaku Pemerkosa Siswi SD Diancam 15 Tahun Penjara

PALU – Kepolisian Resor (Polres) Palu resmi menetapkan RA (46) sebagai tersangka kasus pemerkosaan anak di bawah umur. RA diancam hukuman kurungan penjara paling lama 15 tahun. Tersangka diamankan saat korban RE (13), siswi Sekolah Dasar (SD) di Kota Palu, menceritakan apa yang diperbuat oleh RA kepada keluarganya.

Pelaku mengakui baru pertama kali melakukan pemaksaan hubungan badan terhadap RE, di rumahnya yang terletak di Kelurahan Talise Kecamatan Palu Timur.

Kasat Reskrim Polres Palu, AKP Holmes Saragi mengatakan bahwa seorang pria yang sudah memiliki istri ini tega melakukan tindak pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Pelaku mengajak korban ke rumahnya untuk membantu membereskan rumah. Namun tujuannya berbeda, korban diperlakukan tidak manusiawi oleh pelaku.

“Pasal yang dikenakan sesuai dengan hasil gelar perkara adalah pasal 81 ayat 2 atau pasal 82 ayat 1 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun,” jelasnya, Selasa (5/6) di Mapolres Palu.

Saat dilakukan gelar perkara, pelaku mengakui baru pertama kali melakukan tindakan pemerkosaan tersebut terhadap korban. Tidak disangka bahwa apa yang dilakukan oleh pria yang sudah berumah tangga tersebut harus melakukan pemerkosaan kepada anak masih di bawah umur. Sehingga ancaman hukuman yang ditetapkan oleh penyidik adalah yang tepat dalam UU perlindungan anak.

“Ia karena ini kasus pemerkosaan sehingga dalam gelar yang mana tersangka mengakui bahwa baru pertama kalinya, maka kami kenakan pasal tersebut dengan perlindungan anak,” kata Holmes.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, diungkapkan Holmes, pemeriksaan kepada korban yang didampingi oleh pihak keluarga penyidik langsung melakukan penahanan pada 3 Juni 2018 di rumahnya. “Sebelumnya kami tetapkan untuk ditahan karena ada dua bukti yang kuat kemudian kami tetapkan tersangka, dan saat ini pelaku kami amankan di Rutan Polres Palu,” jelasnya. (who)

Categories: Radar Palu

Bendahara Dirampok Usai Cairkan Dana BOS

POSO – Kasus perampokan terhadap nasabah bank terjadi di Poso, Selasa (5/6) siang. Seorang bendahara Sekolah Dasar (SD) dirampok oleh orang tak dikenal usai mencairkan uang dana biaya operasional sekolah (BOS) di Bank Sulteng, Poso.

Perampokan terjadi di depan sebuah toko yang letaknya berdampingan dengan Bank Sulteng. Akibat perampokan tersebut, dana BOS sebesar Rp 30 juta raib digondol pelaku.

Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait kasus perampokan nasabah Bank Sulteng ini. Sebab korban yang identitasnya belum diketahui ini masih dimintai keterangan oleh penyidik Polres Poso.

Bagaimana kasus perampokan tersebut bisa terjadi ? Sejumlah saksi di TKP menyebut guru bendahara BOS ini dirampok usai menyimpan uang hasil penarikan tunai 30 juta di dalam bagasi motor matic miliknya. “Si korban bilang itu uang BOS 30 juta yang dia tarik dia simpan di bagasi motor baru dia tinggal ke ATM. Pas dia bale, sadel motornya sudah terbuka dan uangnya hilang semua,” tutur sejumlah nasabah dan pegawai Bank Sulteng di TKP.

Ketetangan ini dibenarkan oleh seorang anggota Polri yang berjaga di bank. “Tapi kenapa motornya dia parkir di sana (depan sebuah toko). Jadi tidak terpantau CTTV Bank, ” ujar polisi muda ini.

Jarak tempat parkir motor milik bendahara BOS dengan Bank Sulteng sekitar 10 meter di sebelah kiri bank. Sementara ATM Bank Sulteng berada di samping kanan bangunan bank. Mengetahui uang dana BOS-nya hilang, sang bendahara panik. Oleh polisi yang piket, si bendahara disarankan dan dibawa ke Polres untuk melaporkan kasusnya.(bud)

Categories: Radar Palu

Hati-Hati Beraktivitas di Sungai Palu, Buaya Gigit Korbannya yang Keempat

PALU – Jufri (33), menambah deretan korban digigit buaya dalam beberapa tahun terakhir khususnya di Lorong Malaya, Jalan Towua, Palu. Jufri yang sehari-harinya bekerja sebagai penambang pasir di Muara Sungai Palu memang masih diberi keselamatan. Pada Sabtu malam (2/6), Jufri digigit buaya sungai Palu.

Bapak dua anak ini digigit buaya pada kaki kanannya saat ingin naik ke darat setelah selesai menyedot pasir, berjarak 500 meter dari Jembatan II di arah selatan.

Informasi yang diperoleh, posisi Jufri saat itu sudah selesai mengisi pasir ke truk dan berencana naik ke darat. Tetapi ketika dia menarik selang, terasa berat seperti tersangkut pada sesuatu di dalam air. Jufri kemudian berinisiatif meraba selang dengan menggunakan kakinya. Namun naas, ketika kaki kanannya merasakan menyentuh sesuatu di dalam air ternyata yang disentuhnya adalah buaya dan langsung menggigit kakinya.

“Langsung digigit di kaki, dia ingin tarik ke tempat dalam, saya berusaha menarik kaki tapi tidak bisa, jadi saya buka mulutnya dengan kedua tangan dan kaki saya terlepas,” jelas Jufri kepada Radar Sulteng saat masih terbaring di tempat tidur pasien di Puskesmas Bulili, Jalan Adam Malik.

Di kaki kanannya terdapat tiga lubang, masing-masing dua lubang dibetis dan satu lubang di paha, serta satu goresan pada bagian lutut. Satu dari tiga lubang itu harus mendapat dua jahitan. Sedangkan jari telunjuk tangan kiri Jufri harus dijahit 10 jahitan, karena dia berusaha membuka mulut buaya yang menggigit kakinya.

“Saya bergegas ke darat dengan kaki berlumuran darah. Sudah  tidak menoleh ke belakang lagi untuk melihat apakah buaya mengejar atau tidak,” lanjut Jufri.

Menurutnya, posisi air saat dia digigit sampai di dada. Sehingga dia tidak melihat langsung ukuran dari reptil yang memiliki nama latin crocodylus porosus ini. Namun Jufri mengakui buaya ini mungkin saja berukuran cukup besar. “Saya kan sempat pegang kepalanya, saya raba-raba,” cerita Jufri.

Warga Jalan Towua yang juga keluarga Jufri di Puskesmas Bulili menuturkan, di sungai Palu tepatnya di sekitar Jalan Malaya atau dekat jembatan II Jufri adalah korban keempat digigit buaya, saat melakukan aktivitas menambang pasir. “Yang saya ingat sudah empat orang yang digigit buaya di sungai tidak jauh dari tempat Jufri digigit buaya,” kata warga yang enggan menyebutkan namanya.

Minggu (3/6) pagi, pantaun Radar Sulteng di lokasi Jufri diterkam buaya, penambang lainnya tetap beraktivitas seperti biasa. Saat itu ada dua truk yang sedang mengisi pasir. Sekitar 100 meter, warga lain juga sedang asyik melihat buaya yang sedang berjemur. Dugaan warga buaya inilah yang sudah menggigit Jufri Sabtu malam.

Sementara dari sisi medis tidak ada efek samping akibat gigitan buaya tersebut. Hanya saja Jurfri korban digigit buaya harus rutin chek-up ke dokter. “Sering yang digigit buaya datang ke sini, tahun lalu juga ada, masih remaja, dia mengalami robek di bagian paha,” terang Christina, perawat Puskesmas Bulili.

Sementara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng melalui Kepala Seksi Wilayah I, Haruna, berpesan agar para penambang dapat menaati waktu-waktu dimana buaya sedang aktifnya mencari makan. Dari pukul 16.30 sore sampai 08.00 pagi dia meminta agar penambang tidak beraktivitas di sekitar sungai.

“Bukan saat ini musim kawinnya, tetapi memang aktifnya dia cari makan mulai sore hari sampai besok pagi. Saya pesan penambang pasir jangan beraktivitas,” tegas Haruna.

Sehari sebelumnya, BKSDA Sulteng juga mengevakuasi buaya yang ditangkap warga Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, pada Jumat (1/6) sekitar pukul 16.00 wita. Buaya dengan ukuran 3,57 meter berjenis kelamin betina ini menjadi tontonan masyarakat di Tanggul Nosarara, sebelum di bawa ke kantor BKSDA pada Sabtu (6/2) sekitar pukul 12.00 wita.

“Kami tangkap karena sudah menyeberang ke pemukiman warga tepatnya di salah satu kolam warga di Jalan Kalora, dan di sekitar lokasi itu banyak anak-anak bermain,” kata Iskandar, satu dari empat orang warga yang memberanikan diri menangkap buaya ini.

Saat proses evakuasi tim BKSDA Sulteng sempat beradu mulut dengan warga. Pasalnya, buaya yang ditangkap warga sudah terlebih dahulu ditempatkan di salah satu kolam di Tanggul Nosarara untuk dijadikan tontonan warga. Namun pengamanan kolam ini belum memenuhi kriteria dari BKSDA. Sehingga setelah diberikan pemahaman dan tata cara penangkaran yang aman barulah warga merelakan buaya tersebut. BKSDA akan menunggu jika memang warga Kelurahan Nunu ingin mengurus prosedur penangkaran buaya dalam beberapa hari ke depan. Jika tidak, maka buaya ini akan dikirim ke luar daerah di lokasi penyelamatan satwa.

“Ini pertama kali warga saya menangkap buaya, tetapi sering juga naik di pinggir sungai. Selain meresahkan juga jadi tontonan,” sebut Lurah Nunu, Moh Yusuf.

Karena sudah membahayakan, Moh Yusuf berharap ada jalan keluar terkait buaya ini ke depannya. Apalagi ada warganya yang sudah pernah digigit saat memancing. “Sebagai pemerintah Kelurahan saya berharap ada seperti penangkaran, karena buaya ini sudah masuk ke pemukiman,”lanjutnya

Radar Sulteng juga memantau beberapa bagian sungai Palu yang tidak dibentengi dengan tanggul membuat reptil melata ini dengan sesuka hati untuk bolak-balik dari sungai ke darat. (acm/win)

Categories: Radar Palu

Aman, THR Para PNS di Sulteng akan Segera Dibayarkan

PALU – Gubernur Sulawesi Tengah H Longki Djanggola memastikan Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji 13 bagi Aparatur Sipil Negara lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah segera dibayarkan. Untuk THR akan dibayarkan minggu ini sebelum 8 Juni 2018 dan gaji 13 akan dibayarkan di awal Juli 2018.

Meskipun diakui membebenai keuangan daerah, namun sebagai pemerintah kata Gubernur tidak ada alasan untuk tidak menjalankan perintah pemerintah pusat. Ditegaskannya, Pemprov siap dan punya ketersediaan dana untuk membayarkan meskipun nantinya jika diperlukan melakukan pergeseran-pergeseran anggaran belanja lain.

‘’Karena memang sesuai Edaran Mendagri, bagi daerah yang belum menyiapkan anggarannya  bisa melakukan pergeseran anggaran dari belanja lain,’’ ungkap Gubernur, ditemui usai melaksanakan upacara peringatan hari lahir Pancasila, Senin (4/6).

Dijelaskan Gubernur sebenarnya pemberian THR dan gaji 13 setiap tahunnya selalu ada. Hanya saja untuk tahun ini terbitnya peraturan pemerintah nomor 18 tahun 2018, menyertakan beberapa komponen lain selain gaji pokok, diantaranya tunjangan penghasilan. Komponen-komponen di luar gaji pokok itu sesuai edaran Mendagri dibebankan kepada APBD.

Senada dengan Gubernur, Sekdaprov H Mohamad Hidayat yang juga ditemui usai upacara kemarin memastikan belum ada mata anggaran yang terganggu. Saat ini pemprov masih mempunyai dana saving yang dipersiapkan dan biasa digunakan untuk mengantisipasi kegiatan lain, seperti tambahan gaji dan lainnya.

‘’Kemungkinan dana-dana itu yang akan kita tarik untuk membayarkan itu,’’ kata Sekda.

Jadi lanjut Sekda hak-hak untuk menerima THR dan gaji 13 akan terlaksana dan tidak mengganggu APBD. Bahkan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) untuk Mei akan dibayarkan di awal Juni ini.

‘’Jadi Insya Allah untuk Sulteng aman,’’ tutup Hidayat.(awl)

Categories: Radar Palu

Terindikasi Korupsi, Gedung Baru DPRD Morut akan Di-Police Line

MORUT – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Sulawesi Tengah hampir merampungkan penyidikan kasus dugaan korupsi pembangunan gedung baru DPRD Morowali Utara. Langkah terkini yakni pemasangan police line di lokasi gedung tersebut.

Tahapan itu dikemukakan Kasubdit III Tipikor Dit Reskrimsus Polda Sulteng AKBP Teddy Salawati di Kolonodale, Morut, Rabu (6/7) malam.

“Besok pagi kita police line gedung DPRD Morut,” ungkap Teddy.

Ia yang saat itu bersama Ketua Fraksi Partai Demokrat Ferry Siombo, menuturkan pemasangan police line guna menetapkan gedung tersebut sebagai barang bukti atas kasus yang penanganannya memakan waktu sangat panjang.

Menurut Teddy, dalam kasus gedung baru DPRD Morut ini ada tiga laporan yang ditangani pihaknya yakni perencanaan, pembebesan lahan, dan pembangunan gedung berstruktur pancang tersebut. Ketiga poin itu lantas melambatkan proses hukumnya.

“Andaikan saja cuma satu kasus, prosesnya tidak perlu selama ini,” jelas dia.

Sejalan itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan BPK guna mencari nilai perkiraan kerugian negara. Sebab poin penting dalam kasus ini yaitu penggunaan uang rakyat yang tidak sesuai azas manfaat.

Terkait para tersangka, Teddy menyebut sudah ada sejumlah oknum sebagai calon. Namun demikian, penetapan tersangka tidak dilakukan sekarang. Alasannya karena belum saatnya hal itu di-publish.

“Jika sudah dipastikan ada kerugian negara, ya jelas kasus ini mengarah ke proses hukum lanjutan,” tandasnya.

Menyoal nasib selanjutnya gedung berlokasi di Jalan Kuda Laut, Kelurahan Bahoue, Kecamatan Petasia itu, Ia memastikan akan menjadi bangunan mubazir. Pasalnya, gedung itu tentunya tak bisa lagi dirampungkan akibat kontur tanah yang labil.

“Sekarang saja tanahnya sudah turun sekira enam meter. Terus mau dijadikan apalagi selain menjadi bangunan tua? Kasian kan uang rakyat,” pungkas Teddy.

Sementara itu, Ferry Siombo menyayangkan pembangunan DPRD Morut. Menurutnya, daerah telah merugi akibat dana miliaran yang digunakan tanpa perencanaan yang matang.

“Daerah kita rugi. Rakyat kita juga rugi. Semoga kasus ini sebagai pembelajaran untuk kita semua,” tukas Ferry. (ham)

Categories: Radar Palu